Latest News
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label SUARA MAMA PAPUA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUARA MAMA PAPUA. Tampilkan semua postingan

5 Poin Kelebihan Perempuan Papua yang Wajib Anda Ketahui

Written By Unknown on Minggu, 23 April 2017 | April 23, 2017


Siapasih yang tidak mengenal perempuan Papua? Berbicara tentang perempuan Papua berarti kita bukan hanya berbicara tentang mama yang akan melahirkan laki-laki dan perempuan Papua. Lebih dari itu. Kita berbicara tentang kelangsungan manusia Papua di tanah surga. Sejak dahulu, antara mama Papua dan tanah Papua merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa kita pisahkan.

Jika ditinjau dari segi budaya "Suku Mee" maka tanah merupakan mama dan mama merupakan  jalan utama penentu kelangsungan kehidupan manusia di atas tanah. Itulah sebabnya, Suku Mee memandang tanah mereka sebagai Mama. Sedangkan  mama biologis merupakan penentu kelangsung suatu marga. Ketiadaan keturunan, bagi suku Mee terkadang merupakan persoalan yang besar. Ketiadaan anak ini merupakan satu poin yang memicu timbulnya poligami di wilayah Suku Mee. Meski secara sains ketiadaan anak dalam keluarga tidak selalu disebabkan oleh perempuan. Sayangnya, sampai sekarang hal itu sering berlaku. Ya, ujungnya perempuan Papualah yang salah. 
Seorang laki-laki bisa saja hidup tanpa seorang perempuan tetapi kehidupan terasa tidak sempurna tanpa kehadiran perempuan. Entah apa yang menyebabkan semua itu, tetapi yang pasti semua karena hukum alam yang mengharuskan  manusia hidup, berkembang, dan terus beradaptasi.  Jika  itu ditinjau dari segi biologi. Sedangkan dari segi agama kristen, maka manusia diciptakan Tuhan dari tanah yang diawali dengan penciptaan Adam. Selanjutnya, manusia ditakdirkan untuk terus berkembang dan beranak cucu.
Dipoin ini, pandangan budaya suku Mee dan pandangan Agama menjadi singkron. Agama bersaksi bahwa manusia diciptakan Tuhan dari tanah. Dan tanah menjadi sumber pembentuk tubuh jasmani dari semua manusia. Suku Mee memandang tanah sebagai mama yang menyediakan lahan untuk berkembun, membangun rumah, menyediakan makan, dan beranak cucu. Logikanya, menjual tanah berarti menjual mama  yang membentuk anda. Dan bahkan dulu, waktu Dihai masih kecil. Saya pernah dimarahi mama, hanya karena tulis-tulis di tanah. Katanya, itu mama jangan memotong dan menulis di tanah tanpa tujuan yang bermanfaat.     Dari pembahasan ini muncul dua pertanyaan untuk kita renungkan, yaitu 
  • Sudah berapa besar kita menjual mama sendiri demi memuaskan ego kita?
  • Sudah seberapa besar kita menghargai dan menjaga perempuan Papua sebagai mama yang akan menentukan kelangsung hidup manusia Papua?
Baca Juga: Surat Buat Perempuan Papua
Bacara Juga: Suara Untuk Perempuan Papua
Dalam bahasa gaulnya, perempuan Papua merupakan pucuknya. Sedangkan mama Papua merupakan akarnya. Yupss, karena pucuk tidak kuat tanpa akar maka pucuk itu akan menggantikan peran akar jika waktunya tiba dengan tujuan untuk menopang pucuk selanjutnya.
Pertama- Perempuan Papua itu tangguh dan jarang sekali ada yang dimanja 
Manja dan meminta perhatian lebih memang identik dengan cewek. Ya memang itulah salah satu tangungjawab seorang cowok, tetapi bagi perempuan Papua sifat manja terkadang berlebihan. Artinya, tanpa mendapat perhatian dan manja pun, bagi mereka yang terpenting adalah tidak melupakan mereka dan sering meluangkan waktu yang untuk membentuk mereka menjadi pribadi lebih dewasa dalam menyikapi masalah. Poin ini merupakan modal yang cukup bagi mereka.
Kedua perempuan Papua rata-rata cewet, spontan, keras, dan tidak pendendam.
Coba saja gan  ganggu cewek Papua. Terutama yang tidak mengenal anda. Heheheh  ingat!!Jika anda menggangu berarti anda siap terima respon dengan kata-kata semi rap.Artnya, ko ganggu berarti ko cari dapat maki. Dibalik kerasnya perempuan Papuamereka memiliki jiwa yang lunak. Jiwa keibuan yang sangat berjasa dalam memanusiakan manusia Papua. Mereka terkadang terlihat seperti baja di luar, tetapi memiliki jiwa selembut kapas. Cerewet dan spontanitas mereka merupakan topeng untuk menyembunyikan hati yang lembut.  Sekarang tergantung anda, apakah anda mampu menghapus tepeng itu untuk mendapat hati yang lembut.
Selain itu, sikap itulah yang membuat mereka menjadi diri sendiri. Jika dalam ilmu moral mereka menjadi manusia otentik. Apa adanya, bukan ada apanya. Mereka tidak bertopeng dibalik kelemah-lembutan tetapi tampil sebagai pribadi yang otentik.
Dalam percintaan ketika mereka diputuskan dan diabaikan terkadang sifat seperti ini membuat mereka susa melangkah untuk maju. Bagi mereka, kasih itu tidak hanya memaafkan, tetapi lebih dari itu. Seharusnya,  kasih itu memiliki. Mereka mampu mememaafkan tetapi rasa memiliki itulah yang  membuat mereka susah untuk melangkah alias Move On. Karakter mereka yang spontan dan otentik  membuat mereka sering berpapasan dengan kekerasan dari laki-laki Papua tetapi kelembutan itu mampu membuat mereka memaafkan dan jarang bergosip tentang suaminya, karena bagi mereka yang terpenting adalah memiliki.
Ketiga- jarang ada perempuan Papua yang individualis. Mereka rata-rata berjiwa sosialis tanpa pilih kasih. Artinya mereka akan bergaul dengan cowok dan cewek siapa saja yang mereka anggap baik dan nyaman. 
Di poin ini terkadang jiwa sosial seorang perempuan Papua terkadang salah direspon oleh laki-laki Papua. Ketika perempuan Papua dekat dengan laki-laki Papua. Kadang laki-laki Papua beranggapan bahwa hal itu terjadi karena perempuan itu suka dengannya. Artinya lebih dari seorang sahabat. Ya, tidak sedikit kasus seperti ini yang terjadi dalam hidup seorang perempuan Papua. Sampai-sampai di Papua  ada jargon Cinta di tolak ayuwa bertindak. Tidak tahu artinya, heheh tanya saja pada teman Papuamu. Kasus seperti ini, terkadang membuat mereka kesulitan untuk mencari tempat untuk berlindung. Tapi  mereka tahu, mana sahabat yang layak dan mana sahabat yang ada maunya. Lebih jauh lagi, ketika berkeluarga jiwa sosial ini membuat mereka memandang semua anak Papua sebagai anak mereka.
Keempat- pengaruh Positif perempuan Papua dalam meberikan dampak kepada perempuan non Papua yang menjadi bagian dari orang Papua.
Selama ini tidak sedikit perempuan non Papua yang menjadi bagian dari perempuan Papua (Mama Papua).  Mereka rata-rata sangat cepat menyesuaikan diri dengan kehidupan perempuan Papua. Mulai dari dialek, kebiasaan, cara merespon masalah, dan juga dalam nendidik anak serta  melihat secara merata semua orang tanpa membeda-bedakan keluarga dari pihak laki-laki. Proses ini tentu terjadi karena didikan suaminya, tetapi juga tidak terlepas dari pengaru positif pergaulannya dengan perempuan Papua lainnya. Baik di dalam lingkungan keluarga laki-laki mapun dari perempuan lainnya.
Kelima- laki-laki Papua terkadang merespon  kelembutan, kasih sayang, dan jiwa keibuan seorang perempuan Papua dangan apa yang tampak dipermukaan, yaitu keras kepala, suka melawan, cerewet, dan suka memancing emosi. 
Dihaimoma menulis
All@right dihaimoma
Di Poin ini tidak sedikit laki-laki Papua yang mengkur kelembutan, kasih sayang, dan cinta suci  perempuan Papua dari kecantikan, kerapian, dan keelokan seorang perempuan Papua yang terkadang tampil sederhana. Selain itu, banyak pulah yang memandang perempuan Papua itu keras, cerewet, dan kepala batu. Padahal, kita laki-laki Papualah yang tidak mampu menemukan kelebutannya.
Di sinilah perempuan Papua kembali disalahkan. Dalam hal ini, saya sepakat dengan Tua Konaiyo botak alias " Rigo Detto "bahwa jika perempuan marah dan kepala batu kesalahannya pasti adalah pada laki-laki sebagai kepala keluarga. Yah, mungkin karena laki-laki Papua belum menemukan kelembutan yang terselip di balik kepala batunya. Hal ini tentu menjadi tugas wajib laki-laki Papua. Heheheh, anda dan saya.

Demikian lima poin kelebihan perempuam Papua yang dapat Dihai bagikan kepada pembaca. Nahh, sekarang apakah ada yang perlu ditambahkan atau dikurangi? Bagaimana pendapat anda? Dihai sangat menghargai kritik dan saran dari pembaca.

Dua pertanyaan ini menjadi renungan untuk kita semua.   Heheheh, ingat ee gan. Termasuk Dihai sendiri juga. 
Selanjutnnya, dari pembahasan di atas jika kita memilah lagi antara perempuan Papua dan Mama Papua. Maka sama halnya dengan mama Papua dan tanah Papua pada penjelasan di atas. Keduanya tidak bisa kita pisahkan. Perempuan Papua merupakan pengganti peran mama Papua  dikemukian hari. Yah. Seperti kita ketahui, saat ini mama Papua terlebih dulu memegang peran vital dalam melahirkan manusia Papua. 
Berangkat dari pembahasan panjang di atas. Dihai akan berbagi 5 hal yang hanya dimiliki perempuan Papua dan membuat perempuan Papua menjadi pribadi yang unik dan tangguh.

Suara Untuk Perempuan Papua


Terlampau lama aku hidup sebatang kara. Bukan piatu tetapi yatim. Kata ibu, aku begini adanya. Ia tidak pernah memberitahu siapa ayahku dan mengapa aku yatim. Mungkin belum saatnya atau memang aku ditakdirkan untuk tidak mengetahuinya. Entalah. Sejak dahulu jawabannya telah melegenda dalam hati ibu.

Ahhhhh, perasaan tabu itu kembali menghampiriku. Malam ini, aku ingin bertanya siapa ayahku. Padahal puluhan kali ibu manangis dan memarahiku ketika aku bertanya siapa ayahku. Aku terbaring sunyi di kamar berdekor setengah layak. Rasa ini tak ada yang tahu, selain pelapon kosong yang tampak pucat dan hembusan nafas yang berdesa keluar mengisi ruang hampa ini.

Aku masih terbaring. Sangat mustahil bagiku untuk bertanya yang kesekian kali pada Ibu. Ahh mungkin akan ada waktu untuk aku menanyakannya.  Aku pun terpaksa harus membiarkan pertanyaan ini melegenda dalam hatiku.

Aku tidak mengetahui ayahku, bukan karena aku tidak mengetahui masa lalu Ibuku. Lebih tepatnya  aku hanya  tidak mengetahui mana yang menjadi ayahku. Jawaban dari  pertanyaan Inilah yang menjadi misteri hingga saat ini. Ibu dikenal dunia karena keelokannya, meski banyak yang beranggapan Ia hanyalah janda dari bekas tiga suaminya.

Perempuan paru baya yang dipilih Sang Khalik untuk  menjadi malaikatku dibumi itu  banyak  bercerita tentang masa lalunya. Dari tentang kehidupan rumah tangga dengan ketiga suaminya sampai dengan bagaimana menyikapi kehidupan. Hanya saja, kalau tentang  siapa  ayahku masih menjadi hal tabuh untuk di bicarakan. Enta apa yang  menghalangi  jawaban itu untuk keluar dari benak ibu . Aku pun tak mengetahuinya

Aku masih terbaring seperti semula. Posisi tidur, kaki hingga tanganku tidak berpindah seinci pun. Hanya tatapan mataku yang berpindah perlahan menjelajahi  langit-langit rumah yang tampak pucat. Aku mulai terbawa dalam perasaanku sendiri. Kali ini aku teringat apa kata ibu di senja itu, “semua perempuan Papua adalah Ibumu”. Sepenggal kalimat itu terucap dari bibirnya, meski saat itu aku belum sepenuhnya mengerti. Aku hanya mengangguk meyakinkan ibuku bahwa aku mengerti.

Bagaimana bisa ku pahami, seorang ibu berkata,” semua perempuan Papua adalah ibumu”. Masa seorang ibu yang melahirkanku dapat  berkata seperti itu. Jadi  benar,  aku terlahir  melalui lebih dari satu rahim perempuan Papua. Jika benar bagaimana mungkin itu terjadi. Aneh.

Ah, sudahlah  tidak ada gunanya memikirkan itu. Semua hanya omong kosong. Pikirku seraya menutup bola mataku dengan perlahan. 

                                                                    ***                                           
Hari ini aku terbangun kesiangan, rumahku sepih. Aku lekas keluar menuju ruang tamu rumahku yang nampak senyap. Aku duduk termenung di atas sofa yang bilik kanannya telah  menjadi sarang serang. Sepi, karena semua pergi  bekerja. Ibuku berprofesi sebagai  model, belakangan Ia menjalin hubungan dengan Budi. Seorang manipulator kelas dunia. Ia dikenal dan ditakuti dunia karena banyak membajak hasil karya orang lain. Itulah sebabnya, mereka menyebutnya manipulator kelas dunia.

Meski belum sepenuhnya mengetahui mengapa ibuku tertarik  pada lelaki itu. Aku sendiri agak linglung melihat tingkah ibu yang begitu tertarik pada lelaki pembajak yang tidak pernah menghargai karya orang lain. Selain itu, aku linglung karena mendengar gosip yang telah lama menjadi buah bibir para musafir kebebasan. Mereka menganggap ibuku di rebut lelaki pembajak itu karena kecantikan dan kemewahannya. Bukan melainkan karena cinta sehidup semati. 

Selain itu ada juga yang bergosip. Ibuku direbut pria pembajak itu dari suami keduanya yang bernama Belan. Konon kata mereka, pria yang akrab disapa Bel ini, sangat disegani dunia. 

Disegani karena kebaikan, juga keburukannya. Kebanyakan dari mereka selalu melihatnya dari sisi burukan pria itu. Padahal jika kita berangkat dari  filosofi hidup orang Tionghoa Hin dan Yan, maka kita pun salah karena melihatnya hanya dari satu sisi.

Bagiku apapun alasan dan masa lalunya, Ibuku bukanlah wanita pemuas nafsu para lelaki. Ia adalah wanita pemberi kehidupan dan aku tahu  jauh di lubuk hatinya. Ia pun rindu akan kebebasan yang mutlak dari tunangannya itu.

Selain kedua pria di atas, ada juga pria yang sempat singga di hatinya. Kata ibu, namanya  Porto. Pria ketiga ini agak samar dalam ingatan ibu. Saking lupanya saat bercerita  Ia kadang  berhenti sejenak untuk mengingatnya.

Yah.. ibuku memang termasuk orang yang menawan. Ia suka bercerita  tentang masa lalunya. Sesekali bola matanya nampak berkaca saat ia bercerita. Sesekali pula, air matanya berlinang terurai dipipinya yang nampak keriput. Masa lalunya begitu suram.

 Ketika aku  melihat orang  yang kucintai itu menagis. Serasa jantungku tidak bertugas. Aku berusaha menyimak tiap alur cerita masa lalu, yang keluar dari bibir wakil Tuhan itu. Semuanya nampak tak berending. Entalah, apa yang membuat masa lalu ibuku begitu suram dan sesak untuk disimak. Hingga kini tak berjawab.

 Ahh sudahlah ngapain aku memikirkannya. Lagian ibuku telah melewati sekian waktu dan berada di hari ini. Seraya bangkit berdiri dan mengakiri anganku yang membawaku melayang. Aku  melangkah dengan perlahan menyentuh sebuah foto wanita hitam manis yang terpampang di bilik kanan dinding rumahku. Foto itu nampak kusam. Debu yang berbaur di foto itu  membuat kemeja yang dikenakan wanita di foto itu tampak kumal. 

                                                             ***                        
Belum lama ini aku mencintai seorang wanita hitam manis yang seasal dengan ibuku. Bukan hanya dia yang manis  tetapi semua wanita dari kampung halaman ibuku. Aku mencintainya sesuai  dengan yang ku bisa. Apa adanya bukan ada apanya, meski kadang bersebrangan paham. 

Dalam percintaan,  meski  terkadang air mata  menjadi harga yang harus di bayar. Aku  berusaha untuk   mengalah. Mengalah bukan berati kalah. Kadang ada saatnya kita harus mengalah untuk menang jika itu satu-satunya jalan terbaik. Selain itu, ucapan “semua perempuan Papua adalah ibumu” dari ibuku, membuat aku harus terperangkap dalam pilihan. Ibu atau pacar.

Bagiku ini waktunya untuk menerapkan ucapan itu. Bahkan tanpa kusadari ucapan itu telah berakar dan meracuni pola pikirku yang akhirnya membuat aku memandangnya dari dua sisi. Ibu dan pacar. 

Sebagai manusia terkadang kekasiku membuat aku kesal dan marah dengan tingkahnya, tetapi sepenggal kalimat dari ibuku itu membuat aku memandang kekasihku sebagai ibuku. . Bagiku seberapa besar aku menghargai ibuku, itu pula yang akan kulakukan terhadap kekasihku dalam hidup yang amat singkat ini.

Sebut saja namanya Rita. Dia hanya satu dari sekian banyak wanita di tempat asal ibuku. Kata ibu wanita-wanita itu kadang di jadikan pemuas hawa nafsu oleh para lelaki. Banyak dari mereka diperlakukan setengah binatang dan banyak pula yang dihamili lalu di tinggal pergi.  Anak-anak mereka tumbuh tanpa tahu ayah mereka. Jangankan mengetahui paras seorang ayah, mengenal makna dari fonem “ayah” saja tidak. Rasanya sangat konyol, tapi itu yang ibu menceritakannya padaku.

Aku sebagai anak yang terlahir tanpa tahu siapa ayahku, kadang turut merasakan  apa yang anak- anak tanpa ayah itu rasakan. Aku membenci para lelaki itu, aku  menghina dan memaki mereka semampuku, namun aku hanyalah bocah yang belum juga tahu tujuan hidup dari dunia yang serba singkat ini. Ya, Itulah kenyataannya, mereka akan terus berkuasa atas para wanita dan selanjutnya melahirkan  generasi tanpa ayah.

Aku  berseru agar Sang Khalik murka dan musnahkan para lelaki itu, tetapi mereka membalas ucapanku “Tuhan itu hanya ada di dongeng orang primitif”. Aku sadar mereka benar, Tuhan itu dongeng tempat persembunyian dari kesalahan orang primitif yang tak mengenal-Nya sepenuh hati.

“Leo,  Ko melamun  apa di situ?” Mengagetkanku.

“Ey…Obet,  Ko dari mana?”. Tanyaku seraya berjalan menghampirinya .

“Sa dari kampus!”. Membalas ucapanku.

“Ohh.......

 Ko sudah baca berita ka, tidak?”. Bertanya lagi.

“Belum kawan, berita apa ka?” Penasaran.

Kawan, majalah  ini di halaman pertama memuat tentang kekerasan terhadap perempuan Papua. Beritanya menarik untuk di baca. Seraya menyodorkan sebuah majalah. 

“Oh, iyoo kha?, Oke sa baca dulu eee!”

Kedatangan Obet membuat semua amarahku terhadap para lelaki itu sirna sekedip mata. Kini sekang aku dihadapkan pada sebuah majalah yang dibawanya. Entah apa isinya aku mulai  membuka majalah itu dan membacanya dengan saksama.

                               Suara Untuk Perempuan Papua

Sajak tahun 1963 kasus kekerasan terhadap perempuan Papua terus meningkat. Kekerasan berupa, kesetaraan gender, poligami, dan sebagainya. Hal ini serupa dengan  topik yang  dimuat beberapa tahun lalu disalah satu majalah ternama di negeri ini “Papua tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan”. Dalam edisi itu  Dr. Margaretha Hanita melaporkan kekerasan terhadap perempuan Papua mencapai 1.360 kasus untuk setiap 10.000 perempuan.
Dari kutipan itu dapat kita simpulkan bahwa kekerasan tersebut bukan hanya di lakukan oleh laki-laki non Papua.  Anehnya kekerasan tersebut mayoritas dilakukan oleh laki-laki Papua sendiri. 

Baru membaca beberapa  paragraf dari majalah tersebut, membuat aku mengerti tentang cerita  ibuku. Ternyata benar kata ibuku, para perempuan  di tempat asalnya sulit untuk bersaing dengan laki-laki. Ibarat tuan dan hamba. 

Huh, berita keparat, baru saja aku merenung tentang hal itu, mengapa topik serupa itu datang membangkitkan amarah yang telah hengkang dari benakku. Kampret ni majalah! Tau isi hatiku. Teriakku, seraya melempar majalah itu ke tong sampah.

Obet hanya terdiam dalam sepi. Menatap aku yang bertingka konyol. Ia berjalan menghampiriku  dengan wajah sedikit bermuram.

“Sob, siapkan pesanmu untuk  para lelaki itu. Dua hari lagi, aku akan berkunjung kesana”. Mencoba menenangkanku.

“ Huh” . Kali ini aku yang terdiam.

Hanya sepenggal kalimat itu yang terucap dibibirnya. Ia  berpaling dan terus berjalan keluar pintu rumahku. Menjauh  dan menghilang dari pandanganku.
Aku berjalan dan  kembali ketempat semula. Ku tatap dengan saksama isi ruang tamu rumahku, tak banyak yang berubah. Hanya saja kudapati sebuah kunci yang mengkilap  dengan sebua gantungan pita ungu bertuliskan,aku bukan pelacur.Aku tahu kunci itu adalah kunci lemari tempat menyimpan dokumen rahasia dari ibuku. Jarang Ia lupa. Ketika  tidur pun kunci itu selalu  terkalung di tangan kanannya. Entah apa yang membuatnya pagi ini, Ia meninggalkan kunci itu di atas meja. 

Aku menghampiri kunci itu dan menyodorkan tangan kananku seraya sesekali  menatap pintu rumahku. Yah.. aku hanya takut tingkaku di pergoki ibu. Ku ambil kunci itu dengan lekas kubuka lemari penuh misteri itu. Dalam remari itu aku melihat berbagai  map berjejer di tiap raknya. Pada kolom kedua dari rak paling atas kudapat sebuah buku kecil  bersampulkan Pulau emas. Sampul buku itu telah kusam, bertanda hampir tak pernah disentuh orang. Ku buka lagi  buku itu dengan lekas, di halaman pertama bertuliskan” Aku dihamili Budi pada tahun 1969  tepat pada usiaku yang ke sembilan tahun. Saat ini aku berusaha kembali  menjalin hubungan ini hanya karena aku tak ingin disebut hamil diluar nikah. Aku tak mau anakku Leo di pandang anak haram. Anakku! Ini  salah ibu. Maafkan Ibu.

 Catatan itu membuat aku  terdiam tanpa kata. Sekarang telah ku ketahui  semua misteri itu. Tak banyak bisa ku lakukan selain  terdiam dalam kesenyapan menerima kenyataan itu.

                                                                   ***
                       
Dua hari telah berlalu. Catatan kecil itu membuat aku terus  mengurung diri di kamarku. Aku tahu Obet akan datang hari ini untuk meminta pesanku kepada para lelaki itu.

 Aku merangkak perlahan sembari menyodorkan tanganku pada secarik kertas  yang terletak di atas meja belajarku. Ku ambil  pena dan merangkai kata di atas kerta itu.

“Aku hanya ingin berpesan pada kalian. Sepenggal kata yang sering di utarakan ibuku. "Perempuan Papua bukan hanya pacar, istri,  atau pemuas hawa nafsumu, tetapi Ibumu sendiri". Apakah berani anda bersaksi ibuku adalah pemuas  hawa nafsuku.  Jika tidak sayangi dia dan pandanglah dia sebagai Ibumu. Apapun yang engkau lakukan terhadapnya, mencerminkan bagaimana engkau menghargai ibu yang membuatmu ada di dunia ini.

Tak banyak yang kutuliskan  di surat itu. Ku lipat surat itu dan kembali  kuletakkan di atas meja. 

Beberapa menit berlalu pintu kamarku di ketok.

“Leo..Leo! Ko buka pintu ka?”Memintaku.

Dengan lekas ku buka pintu itu.

Tampak Obet di depan pintu itu dengan style orang yang hendak bepergian jauh.

Obet..! aku menyapa.

Tanpa basa basi Obet berkata” Mana surat itu? “. Memotong ucapanku.

 Aku harus terburu-buru. Lanjutnya lagi.

Ku serahkan surat yang terletak di atas meja belajarku itu.

Tanpa basa-basi, Obet mengambil surat itu dan berkata

Aku harus lekas pergi. Takut ketinggalan kapal. Seraya menutup pintu kamarku.

Aku tak membalas apapun dan kembali terbaring.

Setelah membaca cerpen ini. Apa makna yang anda dapatkan dari isi cerpe ini?

Sebenarnya Perempuan Papua Itu Sudah Cantik Secara Alami

Written By Unknown on Sabtu, 22 April 2017 | April 22, 2017


MAJALAHTOLI – Tertarik dengan sebuah teguran yang diberikan sebagai dorongan motivasi bagi perempuan Asli Papua oleh Bapak Dosen Felix Degey yang juga adalah penulis artikel ini. Dan artikel ini sebelumnya diposting di wenaskobogau.com, dengan judul “Perempuan Papua Sudah Cantik Secara Alami” dan disini saya hanya memperbanyak lagi, supaya  sama-sama dapat motivasi yang banyak juga yea. Hm maklum ea, ini adalah pertama postingan saya di NL Community, dapat inpirasi awal hehe.*
Ide untuk menulis tulisan ini muncul setelah melihat dan mengamati gaya dandanan yang belakangan ini terlihat berlebihan pada kebanyakan Perempuan Asli Ras Melanesia dari Tanah Papua. Entah itu asli atau palsu tidak jelas. Sehingga, seringkali susah dalam membedakannya. Hal tersebut sangat nampak secara khusus pada tata rias yang dilakukan pada rambutnya. Pada hakekatnya, Bangsa Papua Barat Ras Melanesia memiliki ciri khas khusus yang membedakan dengan suku bangsa lain di dunia. Tidak lain adalah dengan hitam kulit dan keriting rambutnya.
Perbedaan itu pula yang sesungguhnya membuat kita adalah unik, khas dan tidak ada duanya. Namun demikian, sayang sekali karena kekhususan tersebut kini terlihat mulai pudar. Betapa tidak mungkin, saat ini banyak kawula muda yang mulai tampil sesuai dengan gaya dan trend yang sedang berkembang. Baik itu dengan pernak-pernik ataupun busana yang dikenakan maupun pada ciri fisik yang ada pada dirinya. Salah satu contohnya adalah pada rambut dari setiap Perempuan Asli Ras Melanesia Papua.
Saat ini banyak dari mereka yang mulai ramai dengan membuat variasi pada rambutnya. Baik itu pada bentuk, ukuran maupun warnanya. Ada yang menarik rambut keriting keribu mereka menjadi halus dan lurus sebagaimana seperti orang dari Ras Melayu (rebounding). Selain itu, ada juga yang mewarnai rambutnya yang sesungguhnya hitam keriting menjadi lurus dan berwarna-warni (coloring). Tidak hanya itu, ada juga dari mereka yang kini hanya membeli potongan-potongan rambut dari orang lain. Lalu mereka mulai sambung menyambung menjadi panjang. Sehingga terlihat ada perubahan secara cepat (instant) pada rambutnya.
Selain itu, ada juga yang hanya membeli topi yang dibungkus dengan berbagai jenis rambut palsu. Sehingga, ketika mengenakannya terlihat benar-benar seperti rambut yang ada dan tumbuh pada kepalanya. Padahal, sesungguhnya untuk mengubah bentuk, ukuran dan warna dari rambut yang alami membutuhkan waktu yang sangat lama. Contohnya untuk menjadikan rambut berbentuk ikal, tebal dan panjang (talingkar) harus melalui proses perawatan yang intensif dan terus-menerus. Karena ia tidak bisa berubah hanya dalam tempo sesaat sebagaimana yang lazim dilakukan oleh muda-mudi saat ini. Kendatipun demikian, dapat dipahami bahwa semuanya itu dilakukan barangkali untuk meniru gaya dan penampilan dari para tokoh idolanya. Baik itu dari kalangan para pemain bola ataupun penyanyi terkenal. Akan tetapi, tentunya dipahami bahwa sampai kapanpun mereka tidak akan sama persis seperti orang-orang kebanggaannya tersebut. Sebagai
contoh mereka yang sering diidolakan kebanyakan dari kalangan para penyanyi kulit hitam. Mereka adalah seperti Bob Marley, Lucky Dube (alm) ataupun para penyanyi grup-grup band yang biasa tampil dalam Musik Reggae Rastaman. Padahal, jika itu sebagai ungkapan kekaguman terhadap salah seorang tokoh, maka seyogiyanya tidak perlu berpenampilan sama seperti mereka. Akan tetapi, hal lain yang sesungguhnya lebih penting adalah belajar dan meniru semangat dan ideolologi yang perna mereka ekspresikan. Karena untuk meniru penampilan secara fisik seringkali lebih mudah dari pada semangat dan daya juangnya. 
Selanjutnya, meskipun suatu barang sangat tidak sama dengan manusia. Akan tetapi, ulasan berikut ini digunakan hanya sebagai daya pembanding (analogy) untuk memperjelas betapa pentingnya menjaga identitas dan jati diri dari setiap orang. Karena semakin tidak asli, maka tentu akan mengurangi harkat, martabat dan derajat dari seseorang. Ibarat suatu barang.
Jika ia asli (original), maka tentu memiliki nilai jual yang sangat tinggi karena kualitasnya. Akan tetapi, jika barang tersebut hanyalah hasil tiruan (modification), maka sudah sangat jelas ia akan terlihat murah meriah. Bahkan seringkali tidak ternilai karena memang tidak laku. Akhirnya, terlihat kaduluarsa dan tidak layak dipakai oleh orang (expired). Ketahuilah bahwa hal senada juga yang bisa terjadi pada identitas jati diri seseorang. Terlebih adalah dalam hal pengakuan sebagai putra dan putri terbaik Asli Papua Ras Melanesia. Sebagaimana perna diakui oleh banyak orang. Baik itu melalui tulisan diberbagai media massa maupun secara lisan. Sehingga, berikut ini adalah salah satu contoh pengakuan diri yang perna ada dalam bentuk lisan yakni dalam alunan lagu. Lagu tersebut adalah dengan judul Aku Papua Ciptaan Frangky Huberth Sahilatua (alm) yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit.
Oleh karena itu, marilah kita baca, nyanyi dan menelaah makna dari setiap kata dan kalimat dari syair lagu berikut ini:
Tanah Papua, tanah yang kaya surga kecil jatuh ke bumi seluas tanah sebanyak batu adalah harta harapan. Tanah Papua, tanah leluhur, di sana aku lahir bersama angin bersama daun aku dibesarkan. Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua 2x Biar nanti langit terbelah, aku Papua Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi seluas tanah sebanyak batu adalah harta harap. (naworlano.com)

Perempuan Papua Dalam Perjuangan Hak Menentukan Nasib Sendiri

Written By Unknown on Senin, 10 April 2017 | April 10, 2017


Oleh: Kelompok Perempuan Papua di Semarang )*
Kegiatan diskusi kembali digelar mahasiswi Papua di kota studi Semarang, Jawa Tengah. Diskusi bertajuk “Peran Perempuan dalam Perjuangan Kemerdekaan Papua” diadakan  pada Rabu (1/2/2017), dipandu oleh Merry Nawipa, dengan pemateri Tarina M
adai dan Nella Madai sebagai notulis.
Diawali dengan doa dan salam pembuka, dilanjutkan sesi pembahasaan materi yang didahului penjelasan secara umun topik diskusi kali ini.
Dari hasil diskusi bersama, kemudian dirangkum beberapa kesimpulan penting yang diulas dalam artikel berikut ini. Rumusan hasil diskusi ditinjau dari berbagai bidang: politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, seni dan budaya.
Hasil Diskusi
Setiap perjuangan bertujuan untuk mencapai hasil tertentu. Perjuangan butuh proses. Dan proses tersebut di dalamnya terdapat berbagai kendala, rintangan dan tantangan, baik internal maupun eksternal.
Perjuangan jika dikontekskan dengan pembebasan Papua, berarti ada berbagai cara, usaha dan proses yang dilakukan oleh seluruh orang Papua dalam meraih tujuan bersama.
Berbicara tentang perjuangan kebebasan Papua, tentu tidak memandang perempuan atau laki-laki. Semua orang yang berasal dari Papua, kecil atau besar, tua atau muda, baik, orang kaya atau miskin, memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama. Yang membedakan hanya cara-cara di dalam perjuangan itu sendiri.
Pengertian perjuangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah suatu usaha dalam meraih tujuan yang diharapkan. Dengan demikian, perjuangan adalah bagian penting dari suatu usaha yang dilakukan oleh orang dalam meraih suatu kesuksesan yang diharapkan.
Perempuan berjuang dengan caranya sendiri. Dari sejak dulu, perempuan hanya dipandang dengan sebelah mata. Tak disadari perempuan sebenarnya adalah faktor yang berpengaruh. Perempuan itu sesungguhnya adalah pencetak kader bangsa. Banyak peran yang diambil oleh perempuan.
Peran-peran tersebut terbukti dalam berbagai bidang. Antara lain, bidang ekonomi, bidang politik, bidang pendidikan, budaya, ekonomi, dan kesehatan.
Secara terperinci, sesuai hasil diskusi kali ini, dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Bidang Politik
Dulu, perempuan hanya dipandang dengan sebelah mata. Perempuan sering diidentikan dengan urusan dapur dan tempat tidur. Itu satu pandangan keliru yang nyaris membudaya. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan hadirnya banyak perempuan hebat yang semakin hari semakin gigih perjuangkan harkat dan martabat perempuan, perubahan besar terjadi di tengah masyarakat. Terbukti, kini realita yang terjadi di lapangan, perempuanpun ikut bergabung dalam berbagai organisasi, juga di rana politik. Mereka ikut turun lapangan melalui diskusi, orasi saat aksi, dan masih banyak lagi yang dilakukan perempuan.
  1. Bidang Ekonomi
Perempuan dikontekskan dengan budaya Papua, disamping menjadi ibu di rumah, perempuan tentunya punya usaha yang dilakukan agar hasilnya digunakan untuk kepentingan keluarga. Dalam hal ini, perempuan berperan juga dalam merebut dan mengantisipasi masuknya barang atau produk instan yang semakin hari semakin penuhi Papua.
  1. Bidang Pendidikan
Faktor utama dalam perjuangan adalah pendidikan. Pendidikan menjadi sumber utama dalam melakukan segala hal. Tentunya untuk mengetahui sesuatu harus melalui pendidikan. Baik itu pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Dalam hal ini, perempuan saat ini banyak yang menempuh kuliah. Ini adalah salah satu cara yang dilakukan oleh perempuan karena mencetak kader bangsa tentunya perempuan.
Perempuan harus memiliki ilmu yang lebih tinggi, karena karakter anak terbentuk secara biologis akan banyak dituangkan oleh ibu.
  1. Bidang Kesehatan
Peran perempuan dalam pembebasan Papua tidak berhenti hanya dalam ekonomi dan pendidikan. Dalam hal kesehatan pun banyak yang berperan penting. Hal itu dapat kita buktikan dengan kapasitas perempuan Papua yang menjadi perawat, suster dan dokter.
Suatu kebebasan akan ada jika ada sumberdaya manusianya (SDM) baik dan terpenuhi. Banyak cara yang dilakukan oleh kita sendiri maupun penjajah untuk menghabiskan orang Papua. Cara halus maupun kasar yang kita lihat seperti sakit, penyakit dan lain-lain. Hal itu dapat kita atasi dengan hadirnya rumah sakit yang di dalamnya terdapat tenaga medis.
  1. Bidang Seni 
Seni adalah suatu karya segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia yang di dalamnya ada unsur keindahan. Semua orang memiliki keindahan itu.
Bagi perempuan Papua, seni menganyam noken sudah seperti budayanya sendiri, karena itu merupakan suatu kebiasaan yang diturunkan dari orang tua zaman dahulu yang dulunya menganyam dengan kulit kayu tertentu. Hal itu masih berlanjut sampai saat ini dengan benang manila. Perempuan menganyam dengan berbagai motif, bahkan sampai motif bendera Papua. Ini juga satu peran perempuan dalam ikut serta memperjuangkan kemerdekaan itu dengan caranya.
Tak hanya itu. Banyak perempuan Papua juga yang mampu menciptakan syair-syair indah. Perempuan mencurahkan seluruh isi hati negeri melalui tulisan, kata-kata indah.
  1. Bidang Budaya
Perempuan itu sebagai pelindung. Pada masa dulu dalam perang suku di Meeuwodide, perempuan itu sebagai pelindung laki-laki. Dulu pelindung dalam perang suku, jika dikontekskan sekarang, perempuan berperan sebagai pelindung ketika berpolitik.
Peran Penting
Berbicara tentang peran perempuan dalam perjuangan pembebasan Papua, tentu tidak akan selesai-selesai, karena semua orang memiliki cara tersendiri dalam berperan memperjuangkannya. Dari semua bidang, perempuan memiliki kesempatan yang sebebas-bebasnya, karena harkat perempuan saat ini sudah disama-ratakan dengan laki-laki.
Berjuang sesuai dengan cara masing-masing, dengan apa yang dimiliki. Bakat, minat dan keahlian.
Tuhan menciptakan setiap orang dengan masing-masing punya kelebihan. Kelebihan tersebut dapat dimuliakan dengan melakukan sesuatu yang positif. Bukan hanya berguna untuk diri sendiri dan keluarga, namun akan lebih bernilai jika hal itu dipersembahkan untuk banyak orang.
*) Artikel ini merupakan hasil diskusi Kelompok Perempuan Papua di Semarang, Jawa Tengah.

Hana Salomina Hikayobi, Pejuang Hak-Hak Wanita Papua

Written By Unknown on Rabu, 05 April 2017 | April 05, 2017


Di tengah semrawutnya kondisi sosial politik di bumi Cendrawasih, ada satu sosok wanita yang berani menentang arus dan membuat perubahan. Hana Salomina Hikayobi, namanya. Wanita kelahiran 7 Juni 1966 ini memakai tulisan sebagai medium pergerakan untuk menyuarakan kaumnya yang selama ini dibungkam oleh sistem sosial, budaya, dan politik yang tidak berpihak kepada wanita. Sederet perubahan dibuatnya, tapi bagi penerima penghargaan SK Trimurti tahun 2015 lalu, perjuangan masih panjang!

JALAN GERILYA
Karier politiknya berawal saat ia terjun sebagai Majelis Rakyat Papua (MRP). Ia pernah menjadi Wakil Ketua II MRP (2006-2011), meski kemudian ditolak oleh Menteri Dalam Negeri (saat itu Gamawan Fauzi), menjadi anggota MRP periode 2011-1016 dengan tuduhan makar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Masih lekat di ingatannya saat asap pekat akibat kebakaran hotel memenuhi kamar tempatnya menginap bersama sang suami di Papua Barat. Ketika kembali ke kamar, beberapa barang tidak bisa diselamatkan dan kamera yang mendokumentasikan diskusi bersama masyarakat adat tentang sebuah upaya mediasi, hilang,” kisah Hana. Meski tidak jelas apakah kebakaran itu disengaja atau tidak,   hingga kini ia tidak menerima klarifikasi tentang kejadian tersebut.
Waktu itu, ia diminta datang oleh masyarakat adat setempat untuk menjadi penyambung lidah dalam upaya mediasi dengan salah satu perusahaan penambangan batu bara milik asing. Masyarakat lokal ingin lebih dilibatkan. Tidak hanya dijadikan sebagai office boy atau pencuci pakaian, tapi juga diberi kesempatan yang layak, termasuk mendapatkan bagian dari saham atas hasil tambang yang dikeruk dari bumi mereka.

Peristiwa itu hanyalah segelintir saja dari berbagai risiko yang harus dihadapinya sebagai aktivis yang banyak menyuarakan hak-hak rakyat Papua, terutama kaum wanita. Di dunianya ini, Hana tak banyak duduk di balik meja, tapi turun ke bawah, bertemu masyarakat untuk mendengar apa yang menjadi aspirasi dan kebutuhan mereka. Hal-hal yang harus ia perjuangkan.

Otonomi khusus daerah di tahun 2001 era reformasi menjadi salah satu pembuka jalan baginya untuk bergerak dan menciptakan ruang bagi wanita di Papua. Di kesempatan inilah ia mengumpulkan beberapa aktivis perempuan, baik itu yang fokus mengurusi HAM, mereka yang bekerja sebagai PNS, aktivis gereja, aktivis lingkungan dan komunitas lokal yang ada di kampung-kampung.

“Kami sama-sama membangun komunikasi, dan melakukan pertemuan-pertemuan untuk mengumpulkan persepsi. Hingga akhirnya kami melakukan deklarasi bahwa nasib perempuan ada di tangan perempuan juga,” ungkap Hana. Bentuk nyata dari deklarasi itu adalah terbitnya Tabloid Suara Perempuan Papua (TSPP) pada 6 Agustus 2004, dengan edisi perdana 1.500 eksemplar.

Nama tabloid itu sengaja diambil karena suara dan pembangunan bagi wanita dan anak-anak sangat terabaikan. Ia memilih media sebagai alat yang dapat menghubungkan suara masyarakat dan ikut menjadi penentu bagi arah kebijakan. “Perempuan dan laki-laki duduk bersama menghasilkan suatu keputusan. Itulah ukuran keadilan yang kami nantikan dan perjuangkan saat ini,” ungkapnya. Menurutnya, jika porsi keberpihakan ini tertata ulang dengan baik, maka masa depan yang mereka impikan itu akan terjadi. 

Melalui TSPP, ia mengajak para wanita pedagang pasar untuk memperjuangkan hak atas kehidupan yang layak lewat berbagai bantuan modal. Tabloid ini juga wanita untuk berani melangkahkan kaki ke dunia birokrasi atau berkarier di dunia legislatif, yang pada waktu itu hanya bisa dihitung dengan satu atau dua jari.
Tak berhenti di situ, demi melengkapi para wanita di Papua, Hana dan rekan-rekan sekerjanya kerap mengadakan kelas-kelas pelatihan menulis atau jurnalistik kepada wanita-wanita lokal. Apabila selama ini para wanita di Papua hanya bisa mengobrolkan apa yang terjadi di antara sesamanya, maka Hana menantang mereka untuk memindahkan apa yang mereka lihat, kecap, dan rasakan itu ke dalam bentuk tulisan. Apakah itu absennya akses terhadap pendidikan dan kesehatan, kehidupan ekonomi yang memprihatinkan, atau penderitaan mereka sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Saya yakin bahwa membaca dapat mengubah mindset seseorang yang nantinya dapat menjadi kekuatan yang membawa perubahan. Mungkin tidak dalam satu atau dua tahun, tapi kami percaya perubahan itu akan terjadi,” ujarnya, dengan keyakinan tinggi.

Harapan Hana berangsur menjadi nyata. Tabloid ini berhasil merebut hati masyarakat Papua dengan berita-beritanya yang lugas dan berani menyuarakan politik, hukum, kesehatan, lingkungan hidup, dan pendidikan yang masih belum memberikan akses dan ruang berekspresi serta berpendapat bagi wanita di Papua. Tidak heran jika di tahun 2004 tersebut terjadi gerakan yang luar biasa terbangun dalam kehidupan berdemokrasi, terutama di antara kaum wanitanya.
Beberapa alumni pelatihan jurnalistik yang pernah diadakannya banyak yang berhasil mengembangkan karier profesionalnya di dunia jurnalistik. Beberapa ada yang sudah bergabung di RRI, media televisi, dan media-media lain di Wamena. Tak sedikit juga yang bergabung di media ternama seperti Tempo.    


BEKAL JIWA PENDIDIK
Meski tak pernah dituntut untuk kuliah hingga ke jenjang tinggi, setelah merampungkan jenjang sarjana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cendrawasih, Hana melanjutkan ke program Pasca Sarjana Kebijakan Publik di universitas yang sama. Ia sempat berkarier sebagai staf di bagian pembinaan LP Anak Pria di Tangerang (1996-2001). Di kesempatan itu ia juga dipercaya untuk mengajar di SMU Istimewa, yang murid-muridnya adalah para penghuni LP yang masih di usia sekolah.

“Bapak saya seorang guru. Sejak kecil beliau selalu menekankan pentingnya bagi kami untuk sekolah dan menimba ilmu sebanyak mungkin,” ungkap Hana, saat mengisahkan keluarganya. Dalam kebersahajaan hidup, ia dan ketujuh saudara saudarinya bisa merampungkan sekolah. “Dengan belajar, kamu bisa mencapai masa depan yang lebih baik,” begitu nasihat bapaknya, kembali terngiang di telinganya.

Nasihat ini pula yang meyakinkan dirinya untuk terus membawa pencerahan bagi wanita dan anak-anak di Papua. Ia banyak membangun taman bacaan di kampung-kampung, dan sebisa mungkin mengawal pendidikan anak-anak di wilayah pelosok, termasuk merawat gedung-gedung sekolah. Suatu kali, ia mengundang salah satu pimpinan dinas pendidikan saat itu untuk menilik salah satu sekolah yang mereka rawat.

“Jalan menuju lokasi sekolah itu penuh dengan lubang, dan jika hujan lumpurnya bisa sampai ke pinggang,” ujar Hana, menceritakan kondisi akses pendidikan yang menyedihkan di tanah Papua. Menghadapi medan yang berat ini, pejabat dinas yang awalnya berpakaian rapi itu  mulai mencopot jasnya. “Kami sengaja mengajaknya melewati ruas jalan itu supaya akses menuju sekolah cepat diaspal,” ujar Hana, tertawa.

Dari yang pernah menjabat Wakil Ketua II di MRP, kini ia dipercaya sebagai Kepala Bapedda Kabupaten Jayapura. Secara garis hierarki birokrasi, maka posisi Hana yang tadinya setingkat dengan Gubernur Papua, kini justru menjadi turun. Tetapi, menjadi bagian rantai birokrasi dengan posisi strategis justru membuatnya punya peluang lebih besar dalam membuat perubahan.  

“Saya ubah strategi untuk mendorong perekonomian rakyat, mendorong para wanita yang sering menjadi korban KDRT untuk mandiri secara ekonomi sehingga bisa menyekolahkan anak-anak mereka,” ujar Hana, yang di tahun 2011 ikut mendirikan sebuah koperasi untuk membantu wanita-wanita yang ditinggalkan suaminya. Selain fungsi simpan pinjam, koperasi ini juga dilengkapi toserba yang menjual sembako dengan harga miring.

Bagaimanapun, ia mengakui bahwa menjadi penyambung lidah akar rumput, sekaligus menyirami mereka agar tumbuh menjadi kuat dan berdampak, bukan hal yang mudah. Ketika ia berbicara dengan berpihak kepada rakyat, ia tetap dilihat miring juga oleh pemerintah. Tapi, baginya itu sudah risiko. “Kalau bukan kami, siapa lagi yang mau bicara? Saya harus bisa menjalankan tugas ini dengan tanggung jawab saya kepada negara, Tuhan, dan rakyat. Itu prinsip yang saya pegang. Saya tidak mau terbeli dengan apa pun,” tegas Hana. (f)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Portal Berita Tolikara No. 1 Majalah Toli - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger