Latest News
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label PARIWISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PARIWISATA. Tampilkan semua postingan

“MENJUAL” KEKAYAAN ALAM DAN SENI BUDAYA PAPUA SEBAGAI OBJEK PARIWISATA

Written By Unknown on Rabu, 12 April 2017 | April 12, 2017


Kalau saja Gus Dur, ketika itu menjabat sebagai Rresiden RI ke-4, tidak menikmati kemunculan sinar Matahari pertama pada tahun baru di tahun 2000 di Jayapura, ibu kota Provinsi Papua, mungkin kekayaan budaya “Bumi Cenderawasih”itu akan terus terpendam seiring dengan nama yang diberikan kepada daerah itu yaitu Irian Barat yang kemudian diganti jadi Irian Jaya. Soalnya, Irian tidak bermakna bagi penduduk asli daerah itu karena kata itu sama sekali tidak menunjukkan realitas masyarakat. Irian adalah nama pemberian untuk satu daerah, sedangkan Papua terkait dengan etnis secara antropologis. Bahkan, menurut Gus Dur, yang juga jadi alasan Gus Dur mengganti Irian jadi Papua adalah Irian menggambarkan situasi warga secara harfiah yaitu telanjang. Padahal, ketelanjangan warga Papua sema sekali tidak ada kaitannya dengan ketiadaan kain karena cara ‘berpakaian’ mereka, al. dengan memakai koteka, khususnya warga di pedalaman dan pegunungan, merupakan bagian dari kehidupan alamiah. Obahorok dan Wyn Sargent Jika mengacu ke tourism yaitu pariwisata, maka yang dicari tidak sekedar tempat yang indah, makanan yang enak, hotel yang mewah, dll., tapi lebih tertuju pada kehidupan alamiah di daerah tujuan wisata (DTW). Berbeda dengan darmawisata, piknik, jalan-jalan, dll. yang sama sekali tidak mempertimbangkan ciri khas keseharian masyarakat di DTW. Hal itu pulalah yang menjadi kunci keberhasilan pariwisata di Yogyakarta dan Bali. Berbeda dengan DTW lain yang sama sekali tidak menunjukkan identitas masyarakat sesuai dengan budaya setempat. Di Aceh, Tapanuli, Minang, Bugis, dll. tidak bisa dikenali warga asli daerah tsb. dalam keseharian. Berbeda dengan Yogyakarta dan Bali.
Setiap saat kita bisa berjumpa dengan ‘orang Jogja’ dan ‘orang Bali’ melalui tutur sapa dan pakaian khas. Dalam kaitan itulah Tanah Papua, khususnya Provinsi Papua, mempunyai posisi tawar yang sangat besar terhadap pariwisata. Tidak percuma langkah kecil Gus Dur mengganti Irian jadi Papua yang ternyata merupakan lompatan besar dalam menguak kekayaan alam dan budaya Papua. Kata Papua mengacu ke kehidupan masyarakat yang sudah dikenal dunia luas terutama dari aspek antropologi. Maka, tidaklah mengerahkan kalau kemudian seorang antropolog perempuan asal Amerika Serikat, Wyn Sargent,menjadikan dirinya sebagai istri seorang kepala Suku Dani, Obahorok, agar materi disertasinya tentang kehidupan seksual masyarakat Suku Dani benar-benar merupakan realitas (1973). Obahorok sendiri ‘beristri’ 40 tinggal di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Perempuan ini melakukan langkah partisipatif dalam menggali kehidupan seksual Suku Dani. Sayangnya, cara Wyn Sargent untuk mendapatkan bahan disertasi dengan metode konvensional hanya menguntungkan dia dengan hasil sidang cum laude, sementara masyarakat Suku Dani sama sekali tidak memperoleh sesuatu yang berguna bagi kehidupan (seksual) mereka. Wyn Sargent pun menulis pengalamanya dalam buku berjudul ‘People of the Valley’. Kehidupan masyarakat Papua, khususnya di pedalaman dan pegunungan, menjadi daya tarik istimewa bagi wisatawan mancanegara yang mengemas perjalanan sebagai pariwisata yang tidak sekedar melancong. Nama Papua sudah akrab di kalangan wisatawan dan ilmuwan dan langkah Gus Dur yang mengganti nama Irian jadi Papua juga merupakan publikasi akan kekayaan budaya Papua. Masyarakat Papua menunjukkan kegembiaraan dan berbagai kegiatan dengan tarian (Sumber: dailymail.co.uk).
Masyarakat Papua menunjukkan kegembiaraan dan berbagai kegiatan dengan tarian (Sumber: dailymail.co.uk) Gedung Pertunjukan Selain Suku Dani yang sudah terkenal berkat Wyn Sargent, keahlian Suku Asmat yang bermukim di pantai bagian selatan Papua dalam bisan seni merupakan kekayaan budaya Papua. Pematung Suku Asmat tidak pernah belajar formal. Mereka mematung sambil ‘bernyanyi’ yang merupakan komunikasi dengan leluhur untuk menggerakkan akal dan pikiran serta tangan pematung sehingga menghasilkan karya seni yang bernilai tinggi. Pematung Suku Asmat sudah menunjukkan kebolehan mereka ke bebarapa negara selain di Jakarta. Kalau di banyak bandara yang dilarang adalah merokok, di Papua peringatan justru melarang meludah karena warna ludah merah dan tidak bisa dibersihkan. Ini terjadi karena laki-laki dan perempuan Papua selalu memakan pinang, sebagaimana layaknya laki-laki yang merokok atau perempuan yang memakan daun sirih di tempat lain. Diperkirakan di Papua ada 319 suku. Mereka ini masuk dalam ras Melanesia atau Negroid yang ditandai dengan kulit hitam gelap dan rambut kriting. Setiap suku mempunyai ciri khas dalam kehidupan, seperti bentuk rumah, tarian, nyanyian, dll.
Tifa merupakan alat musik khas Maluku dan Papua yang berbentuk kendang. Selain makan papeda yang terbuat dari bubur sagu, makanan lain adalah umbi-umbian dengan sumber protein ikan dan daging. Beberapa tarian khas Papua, seperti tari “Perang”, menjadi pertunjukan seni yang memikat bagi wisatawan. Selain tari “Perang” ada pula tari “Musyoh” yang sakral yang dipertunjukkan jika ada sanak keluarga yang tertimpa musibah. Ada pula tarian “Selamat Datang” untuk menyambut tamu. Sebagai tari bergembira ada tarian “Sajojo” dan tarian “Yospan”. Karena tari-tarian itu tidak selalu ada, maka pemerintah di Papua perlu merancang gedung pertunjukan agar tari-tarian itu bisa dipertunjukkan secara berjadwal kepada wisatawan. Seperti di Bali sepanjang hari wisatawan bisa melihat tari “Kecak” di gedung pertunjukan tanpa harus menunggu malam hari. Rumah Honai (Sumber: alampedia.blogspot.com) Rumah Honai (Sumber: alampedia.blogspot.com) Tiap-tiap suku juga mempunyai bentuk rumah sendiri yang sangat khas yang disebut rumah “Honai”. Ada juga suku, yakni Suku Korowai, yang membuat rumah di atas pohon. Tentu tidak mudah bagi wisatawan untuk mengunjungi semua daerah hanya untuk melihat rumah adat atau rumah etnis. Maka, perlu dibangun semacam ‘taman budaya’ yang menjadi representasi suku, runah, makanan, pakaian, seni dan tari semua suku. Bisa saja terjadi ada wisatawan yang tertarik melihat salah satu suku dan ingin berkunjung ke daerah tempat tinggal suku tsb. Satu hal yang tidak kalah penting adalah souvenir yang khas Papua, mulai darei T-Shirt, miniatur rumah adat atau etnis, koteka, dan pernik-pernik lain yang menjadi bagian dari kehidupan warga Papua. Perlu juga diperhatikan ukuran souvenir agar mudah dibawa, apalagi wisatawan mancanegara yang menggunakan kapal terbang tentulah ukuran jadi penting karena menyangkut berat bagasi. Berbagai macam bentuk koteka sebagai souvenir (Sumber: Risalahati) Berbagai macam bentuk koteka sebagai souvenir (Sumber: Risalahati) Mulai Berbenah Yang tidak kalah penting adalah mendidik masyarakat tentang cara menghadapi wisatawan nusantara dan mancanegara. Ini perlu karena sekarang sering terjadi pengunjung ‘ditodong’ ketika mengambil gambar agar mereka dibayar. Ini berdampak buruk terhadap pariwisata. Untuk mendapatkan uang dari wisatawan caranya bukan dengan todong-menodong, tapi melalui cara-cara yang etis, seperti jadi guide, dll. Diperlukan waktu yang lama untuk mendidik masyarakat agar melek pariwisata. Jika cara-cara yang dilakukan untuk mendapatkan uang dari wisatawan tidak etis, maka itu ibarat ayam berterlur emas. Karena ingin cepat dapat emas ayam dipotong. Hasilnya? Tentu saja tidak ada karena tidak ada telur (emas) di dalam perut ayam. Wisatawan mancanegara sangat efisien mengggunakan uang. Mereka mempunyai daftar lengkap taris losmen, homestay, hotel, ongkos angkutan sampai harga minuman dan makanan.
Nah, kalau toko dan restoran tidak mencantumkan label harga itu sama saja artinya dengan ‘mengusir’ wisatawan karena mereka merasa ditipu. Informasi itu akan tersebar luas dari mulut ke mulut dan melalui media sosial. Potensi seni dan budaya juga ditopang oleh keindahan alam. Pemerintah sendiri menetapkan dua taman nasional di Papua, yaitu: (1)Taman Nasional Lorentz seluas 2,4 juta hektar yang merupakan taman nasional terluas di Asia Tenggara. Tahun 1999 tanam ini dijadikan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Nama taman nasional ini diambil dari nama penjelajah Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz yang mengunjungi taman itu pada tahun 1909. (2) Taman Nasional Wasur di Merauke yang merupakan lahan basah yang dijuluki ‘Serengeti Papua’. Kedua taman ini masih tergolong ‘perawan’ karena banyak spesies flora dan fauna yang belum diteliti. Pariwisata Papua bisa ‘dijual’ kalau infrastruktur di sana, terutama jalan raya dan telekomunikasi, sudah memadai. Selama ini transportasi antar daerah hanya bisa dilakukan lewat udara sehingga memerlukan ongkos yang besar. Tentu saja kondisi ini akan menjadi faktor yang menghambat pengembangan pariwisata di Papua. Ongkos kapal terbang dari Jakarta ke Jayapura pun sangat mahal sehingga menjadi faktor lain yang menghambat pariwisata Papua.
Untuk itu pemerintah perlu juga mengagas penerbangan langsung dari berbagai kota di dunia langsung ke Jayapura sehingga wisatawan tidak perlu lagi transit ke Jakarta. Sayuran dan buah-buahan di pasar  Sayuran dan buah-buahan di pasar Alternatif transportasi ke Papua adalah kapal laut. Untuk itu diharapkan pula PT Pelni lebih aktif memasarkan Papua karena ada beberapa kota yang jadi persinggahan kapal PT Pelni yang berlajar ke Papua. Warga Papua tidak perlu kecewa karena pemerintahan Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla menggerakkan pembangunan dengan semboyan ‘membangun dari pinggir’. Jalan raya mulai dibangun dengan menembus hutan dan melewati jurang agar ada jaringan transportasi darat yang bisa diakses dengan biaya murah. Bahkan, Presiden Jokowi sudah mencanangkan akan membangun rel kereta api di Papua. Seiring dengan roda pembangunan infrastruktur, maka pemerintah daerah diharapkan juga mulai berbenah dengan menggali kekayaan seni dan budaya untuk dijual ke wisatawan.

Ayo Berwisata ke Papua: 5 Festival Budaya di Papua yang Wajib Anda Kunjungi Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/evha.uaga/ayo-berwisata-ke-papua-5-festival-budaya-di-papua-yang-wajib-anda-kunjungi


Papua, pulau ini tidak hanya kaya akan kekayaan alam dan keindahan alamnya saja, tetapi juga kaya akan berbagai macam adat dan kebudayaan berbagai suku yang mendiami Papua. Salah satu cara yang paling tepat untuk menikmati bagaimana kekayaan budaya berbagai suku di Papua adalah mengunjungi Papua ketika festival budaya berlangsung. Selama ini, orang sudah mengenal Festival Raja Ampat yang memang dipasarkan secara besar-besaran bahkan di stasiun televisi nasional. Tetapi sebenarnya ada festival-festival lain di Papua. Bagi para pembaca yang ingin berwisata ke Papua dan ingin menikmati Papua dari sisi kekayaan budayanya, maka inilah 5 festival budaya yang wajib Anda kunjungi: 1.Festival Budaya Lembah Baliem Rumah Honai di Lembah Baliem (Sumber : Indonesiantravel.com) Dari kelima festival lainnya, festival budaya Lembah Baliem mungkin adalah festival yang paling dikenal dunia internasional. Pada penyelenggaraan festival ini di setiap tahunnya, banyak wisatawan dari mancanegara yang datang. Festival yang diselenggarakan di Wamena ini menampilkan pertunjukan dari beragam suku yang bermukim di dataran Wamena hingga Lembah Baliem. Festival Lembah Baliem menampilkan tari-tarian adat khas masing-masing suku. Para pengunjung melihat keunikan corak yang terlukis di wajah dan badan para penarinya. Pada Festival Lembah Baliem ini kita juga akan disuguhi atraksi perang antarsuku yang dimulai dengan penentuan skenario pemicu perang. Pemicu perang ini dapat berupa penculikan warga, pembunuhan anak warga, maupun penyerbuan ladang yang baru dibuka. Adanya pemicu ini, menyebabkan suku lainnya harus melakukan serangan balasan, sehingga penyerbuan pun dilakukan. Sementara, pihak lawan akan bertahan, sehingga pertempuran pun berlangsung dengan seru. Dalam atraksi perang ini tidak menjadikan balas dendam atau permusuhan sebagai tema. Tema yang diusung justru ungkapan yang bernilai positif, yakni Yogotak Hubuluk Motog Hanorogo atau berarti harapan akan hari esok yang harus lebih baik dari hari ini. Ada pula aksi lempar tombak yang didemonstrasikan oleh warga suku di sana. Menariknya, pengunjung pun diperbolehkan untuk ikut mencoba lempar tombak ini. Selain melempar tombak, pengunjung juga akan diajarkan cara memanah ala masyarakat Papua yang sehari-harinya biasa berburu. Tombak dan panah secara kultural memang sangat dekat dengan kehidupan penduduk asli Lembah Baliem. Selain atraksi yang berbau “perang”, dalam Festival Lembah Baliem juga menampilkan pertunjukan Pikon atau alat musik tradisional. Lagu-lagu yang dimainkan dengan Pikon ini, biasanya mengisahkan tentang kehidupan manusia. Ada pula Karapan Babi yang juga menjadi salah satu atraksi menarik dan kerap menimbulkan keriuhan para pengunjung. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat dan masuk ke dalam Honai, rumah adat Papua, yang selama ini mungkin hanya bisa dilihat gambarnya di buku ataupun televisi. Selain itu, dalam festival ini kita juga bisa melihat para mama Papua membuat kerajinan khas Lembah Baliem seperti tas noken dan kalung. Bagi Anda yang ingin melihat Festival Lembah Baliem, Festival ini biasanya diadakan pada pertengahan Agustus di setiap tahunnya. 2.Festival Danau Sentani 14213152281818923839 Festival ini bertempat di Danau Sentani, hanya sekitar 20 Km dari pinggiran ibu kota Provinsi Papua, Jayapura. Danau Sentani sendiri menampilkan suguhan keindahan yang menawan, dengan udara yang nyaman, suasana yang tenang dan dengan latar belakang perbukitan, secara pribadi saya sangat menikmati suasana sunset di Danau Sentani. Ada teman saya, seorang pekerja sebuah LSM pernah bilang ketika ia kembali ke Papua setelah 2 tahun meninggalkan Papua, “Danau Sentani yang memanggil saya kembali ke Papua.” Ia kembali bersama istrinya, mereka berdua memutuskan berbulan madu di Papua. Ok, kembali ke Festival Danau Sentani, festival ini menampilkan kebudayaan dari 18 suku yang hidup di sekitar Danau Sentani, selain itu juga menampilkan kebudayaan suku para pendatang di Papua seperti Bugis, Makassar, Tanah Toraja dan lainnya. Festival ini juga diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, dan sajian berbagai kuliner khas Papua. Selain itu juga akan ditampilkan beberapa budaya khas masyarakat tepian Danau Sentani, salah satunya adalah Isosolo. Tarian Isosolo ini termasuk atraksi yang ditunggu-tunggu dalam Festival Danau Sentani, Isosolo sendiri adalah tarian magis dan semikolosal oleh masyarakat suku Sentani dengan mempersembahkan hewan buaya yang memiliki kaitan erat dengan kehidupan di Danau Sentani. Isosolo terdiri dari dua kata, yaitu  Iso dan Solo atau Holo. Iso artinya bersukacita dan menari mengungkapkan perasaan hati, sedangkan Holo atau solo berarti kelompok atau kawanan dari semua kelompok umur baik anak-anak, ibu-ibu atau orang dewasa laki-laki yang menari. Isosolo sendiri berarti kelompok orang yang menari dengan sukacita mengungkapkan perasaan hati. Isosolo dilakukan diatas gabungan beberapa perahu dan di pelataran di darat yang disebut Yau. Bagi Anda yang ingin melihat Festival Danau Sentani, festival ini biasanya diadakan pada pertengahan bulan Juni di setiap tahunnya. 3.Festival Kamoro 1421315350447198664 Festival ini tidak banyak dikenal dibandingkan festival lainnya, karena waktu penyelenggaraan yang tidak bisa dipastikan tiap tahunnya, bahkan dalam setahun Festival Kamoro bisa dilakukan beberapa kali karena skala festival yang cenderung lebih kecil daripada festival-festival lainnya di Papua. Festival Kamoro yang diselenggarakan oleh Suku Komoro ini biasanya diawali oleh tarian kasuari, yang memang berkaitan dengan kehidupan suku Kamoro. Dalam tarian ini sekitar 20 pria Kamoro membentuk dua baris panjang. Penari dengan kostum kasuari menari sendiri di barisan paling depan. Di tengah-tengah mereka, pria dengan cat tubuh bintik-bintik dikepung penari lain yang membawa tombak. Pria itu lantas dirangkul dan diarak berkeliling. Tarian ini memiliki kisah tersendiri, alkisah ada pemuda Kamoro yang jatuh cinta dengan seorang gadis, namun ayah si gadis tidak setuju. Si pemuda lari ke hutan dan menjadi kasuari. Saat dia kembali ke desa, warga tidak mengenalinya dan dia hampir saja diburu. Namun warga akhirnya sadar, inilah pemuda yang lari ke hutan. Pemuda itu kemudian mengajari warga desa tari kasuari. Selain tarian kasuari, Festival Kamoro juga menyuguhkan para mama Papua membuat sagu, membakar ikan dan ulat sagu, serta menyiapkan cacing tambelo untuk dimakan. Sementara yang laki-laki menabuh tifa dan Anda bisa ikut berjoget dengan mereka. Selain itu ukiran kayu suku Kamoro ini tidak kalah dengan ukiran kayu suku Asmat yang memang sudah terkenal di mancanegara. 4.Festival Asmat 14213154221808608523 Salah satu festival di Papua yang paling dikenal di mancanegara adalah Festival Asmat, karena dalam festival ini dipamerkan ukiran kayu suku Asmat yang sangat terkenal di dunia internasional. Suku Asmat dikenal memiliki kemampuan membuat seni ukiran kayu yang mumpuni di mana mereka dapat langsung mengukir langsung tanpa menggambar sketsanya terlebih dahulu. Bagi suku Asmat, ukiran kayu yang mereka buat erat kaitannya dengan roh leluhur dan karenanya tidak semata dianggap sebagai karya seni. Banyak dari benda seni yang dibuat suku Asmat adalah simbol perang, pengayauan, dan pemujaan kepada prajurit leluhur. Selama berabad-abad, suku Asmat yang berusaha memenuhi keinginan roh leluhur dengan menghasilkan karya seni luar biasa dalam bentuk perisai, kano, pahatan, dan drum. Selain pameran ukiran kayu dan lelang, festival ini juga akan diramaikan oleh ratusan seniman yang akan unjuk keahlian  menenun, berperahu, menari, dan pertunjukan musik tradisional. Pada penutupan festival akan ada acara pelelangan karya seni suku Asmat. Sedikit tentang ukiran kayu suku Asmat yang sangat terkenal itu. Kenapa ukiran suku Asmat begitu terkenal? Ini alasannya. Suku Asmat memilik 12 subsuku yang masing-masing memiliki ciri khas dalam setiap seni pahatan kayunya. Ada subsuku yang menonjolkan ukiran patungnya ada juga yang menonjolkan ukiran salawaku (perisai) dan ada pula yang memiliki ukiran untuk dinding dan peralatan perang. Hal yang paling istimewa adalah setiap karya ukir tidak memiliki kesamaan atau duplikat. Suku Asmat tidak memproduksi ukiran berpola sama dalam skala besar, sehingga bila kita memiliki satu ukiran Asmat dengan pola tertentu, itu merupakan satu-satunya yang ada. Bila Anda tertarik untuk melihat festival suku Asmat dan pahatan kayunya, festival ini dilaksanakan pada pertengahan Oktober setiap tahunnya. 5.Festival Teluk Humboldt 1421315811262958276 Festival yang relatif berusia lebih muda dari festival lainnya di Papua ini, diselenggarakan di Pantai Hamadi, Jayapura. Festival ini diselenggarakan oleh pemerintah daerah Papua untuk memajukan kearifan lokal dalam rangka memajukan ekonomi kreatif di tanah Papua, khususnya di Jayapura. Dalam festival ini ada pementasan kesenian budaya, pagelaran batik Papua, kuliner, kerajinan dari warga setempat, lomba anyam rambut dan merangkai pinang dan masih banyak lainnya. Selain itu ada pergelaran tari tradisional, suling tambur, lomba masak menu tradisional, lomba anyam rambut dan hias pinang. Lalu ada wisata peninggalan PD II, panorama Pantai Hamadi dan pantai lainnya di Teluk Humboldt. Bila Anda tertarik untuk melihat Festival Teluk Humbolt, festival ini akan diselenggarakan setiap awal Agustus di setiap tahunnya. Papua kaya dengan berbagai kebudayaan suku-suku di dalamnya. Penyelenggaraan festival budaya adalah cara yang baik untuk melestarikan kebudayaan dan juga mendatangkan pariwisata di Papua. Hal yang terpenting untuk dilakukan oleh pemerintah adalah untuk membuat kalender khusus penyelenggaraan festival-festival tersebut. Butuh promosi yang baik agar penyelenggaraan festival-festival budaya ini agar penyelenggaraan festival-festival ini dikenal oleh turis-turis lokal dan mancanegara, sehingga festival ini tidak hanya sekedar melestarikan kebudayaan lokal suku-suku di Papua, tetapi juga menghidupkan perekonomian di daerah setempat.Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/evha.uaga/ayo-berwisata-ke-papua-5-festival-budaya-di-papua-yang-wajib-anda-kunjungi_54f90ee6a33311ce308b4bb2

Cuaca Buruk Hantui Transportasi Laut Papua

Written By Unknown on Selasa, 11 April 2017 | April 11, 2017


Majalah Toli – Operator jasa transportasi laut dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang menghapiri Papua dalam beberapa pekan terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika kepada Antara mengatakan bahwa saat ini cuaca ekstrem sedang melanda beberapa daerah di tanah air termasuk provinsi Papua dan juga Papua Barat.
“Prakiraan cuaca ekstrem sekarang melanda sejumlah daerah di Tanah Air, termasuk di Provinsi Papua Barat. Karena itu, operator jasa transportasi laut kami minta mengikuti informasi prakiraan cuaca harian yang disampaikan BMKG terutama peringatan dini akan terjadi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang laut tinggi,” ungkap Kepala BMKG Stasiun Jefman Sorong Frans Rahawarin, Jumat (8/7/2016).
Sementara itu, nelayan di wilayah provinsi Papua juga dihimbau untuk lebih berhati-hati dalam melakukan segala aktifitas melaut dan tetap mengikuti update terkini tentang cuaca yang disampaikan oleh BMKG.
Berdasarkan data BMKG, sejumlah daerah di Papua Barat seperti Kabupaten Sorong, Sorong Selatan dan juga Raja Ampat memiliki potensi angin kencang yang disertai dengan tingginya gelombang laut dan juga hujan yang sangat 

'Burung' dan Berbagai Sebutan Penis di Dunia

Written By Unknown on Senin, 10 April 2017 | April 10, 2017


Majalah Toli--Dalam pergaulan sehari-hari, terlebih jika masih menganggap seks adalah sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan, biasanya masyarakat memiliki nama khusus untuk menyebut alat kelamin manusia. Terkadang, menyebut nama alat kelamin secara lugas terkesan berbicara kotor dan tidak sopan. Karena itulah nama panggilan khusus diperlukan.
Ternyata penyebutan alat kelamin ini berbeda-beda tiap daerah, berdasarkan kebudayaan dan bahasa masing-masing. Seperti di Indonesia, masyarakat sering mengasosiasikan penis dengan sebutan “burung”. Ternyata di negara lain tidak mengenal burung sebagai sebutan untuk penis lho! Dalam artikel kali ini, Boykepedia akan memberikan beberapa trivia terkait penyebutan nama alat kelamin dari berbagai negara di dunia. Pengetahuan ini penting, agar ketika kita berkunjung ke negara tersebut, tidak terjadi gegar budaya, terlebih dalam hal penyebutan istilah seks.

Read more at http://www.uzone.id/-burung-dan-berbagai-sebutan-penis-di-dunia#z938wwcVIe3LGVqq.99

Wisata Lembah Baliem terletak di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua

Written By Unknown on Sabtu, 08 April 2017 | April 08, 2017


Papua memiliki lembah yang indah dengan panorama alam yang masih perawan alias belum dirusak, lembah ini bernama Lembah Baliem atau dikenal juga dengan nama Grand Baliem Valley. Pertama kali ditemukan pada tahun 1938 oleh ahli zoologi Amerika Richard Archbold.

Keindahan Terumbu Karang Pulau Kri Sebelum Dirusak Kapal Pesiar

Written By Unknown on Rabu, 05 April 2017 | April 05, 2017


Kasus hancurnya terumbu karang di area Pulau Kri akibat kapal Caledonian Sky yang 'salah' labuh telah menyita perhatian yang besar dari masyarakat. Tak heran semua mata tertuju padanya, sebab Pulau Kri merupakan salah satu permata Timur yang masyhur akan hamparan terumbu karang dan keanekaragaman ekosistem laut yang sangat kaya.
Pulau Kri terletak di barat Kota Sorong, dekat dengan Pulau Mansuar. Pulau Kri termasuk dalam Desa Yenbuba, di Distrik Meos Mansar, Kabupatn Raja Ampat, Papua Barat.




Dengan keindahan laut dan biotanya, Pulau Kri dikenal sebagai salah satu pulau yang menawarkan lokasi snorkeling dan menyelam yang sangat indah. Ombaknya yang cenderung tenang membuat Pulau Kri menjadi pilihan pertama yang dituju untuk bentuk aktivitas olahraga air. Bagi para wisatawan, disediakan setidaknya 15-20 homestay di Pulau Kri.




Bila dibandingkan dengan pulau lainnya, Pulau Kri memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya di Raja Ampat. Sebagian besar ditumbuhi dengan pohon dan masih berupa hutan. Sebagian besar area pantai dapat diakses secara terbuka untuk melakukan aktivitas dan olahraga air, mulai dari berenang hingga menyelam. Beberapa lokasi untuk menyelam dekat dengan beberapa resort keluarga, seperti resort Sorido dan Kri Eco. Karena keindahan laut dan tersedianya resort keluarga yang nyaman, Pulau Kri menjadi pulau yang paling sering untuk dikunjungi dan disukai oleh para wisatawan.


Terumbu Karang di Raja Ampat, Provinsi Papua Barat
Terumbu karang di Raja Ampat, Provinsi Papua Barat (Foto: AFP/Jason Swandy)

Daya tarik utama Pulau Kri adalah keindahan koral yang tumbuh subur di sekitarnya. Para turis dapat mengabadikan foto koral tersebut, namun tak diperbolehkan untuk memindahkan atau mengambil foto dengan teknik atau alat yang bisa berpotensi merusak koral.



Sementara, untuk daya tarik wisata budaya, Pulau Kri menawarkan berbagai kearifan lokal. Salah satunya adalah menunjukan cara menangkap ikan secara tradisional menggunakan tombak. Teknik ini disebut sebagai 'Molo'. Hanyalah orang lokal yang mampu melakukan ini, karena membutuhkan keahlian dan juga pengalaman.



Bila sudah 'bosan' di Pulau Kri, para wisatawan dapat menjelajah ke tiga pulau lainnya: Pulau Mensuar, Pulau Batanta, dan Pulau Waigeo.



Namun, selaiknya peribahasa berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang kemudian, perjalanan menuju surga Pulau Kri memang dikenal begitu panjang dan melelahkan, terutama para wisatawan yang datang dari Jakarta.


Lokasi Pulau Kri
Peta lokasi pulau Kri (Foto: Bagus Permadi/kumparan)

Untuk sampai di Pulau Kri, titik pertama yang harus dituju adalah Bandara Marinda di Kota Waisai. Dari bandara tersebut, para wisatawan bisa melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Waisai. Di pelabuhan, akan ada serangkaian speedboat yang bisa mengantarkan hingga Pulau Kri.
Dan setelah perjalanan panjang di darat dan air, para wisatawan akan disuguhi keindahan serta ketenangan laut Pulau Kri. Terbayar sudah seluruh peluh dan lelah sepanjang jalan menuju Kri.
Sayangnya, keindahan laut Pulau Kri kini rusak. Sebuah kapal pesiar Inggris melewati area tersebut, padahal jelas-jelas dangkal. Saat ditarik menggunakan tugboat, kerusakan yang ditimbulkan semakin parah.
Otoritas Indonesia kini sedang menghitung kerugian yang ditimbulkan di kawasan seluas 1.600 meter persegi tersebut. Namun apapun upaya perbaikan yang dilakukan, tak akan mampu mengembalikan keindahannya dalam waktu dekat.

Raja Ampat Masih Punya 199 Titik Selam yang Indah


Keragaman terumbu karang di laut Raja Ampat merupakan daya tarik. Peristiwa kapal pesiar itu mengakibatkan 18.882 meter persegi terumbu karang mengalami kerusakan.
Pasca adanya kerusakan terumbu karang, Yusdi mengatakan aktivitas wisata di Raja Ampat berjalan lancar tanpa kendala. Pihaknya belum menemukan adanya keluhan dari wisatawan perihal kerusakan terumbu karang pada satu titik lokasi penyelaman itu.
Yusdi mengatakan insiden kerusakan terumbu karang itu saat ini masih diselidiki oleh Kemenko Kemaritiman.

Raja Ampat

Tiga Lokasi Tujuan Wisata Keren Versi Marischka Prudence


Selama menekuni profesi bloger travel, Marischka Prudence, 32 tahun, telah mengunjungi puluhan tempat indah di dalam maupun luar negeri. Dari sekian banyak tempat indah yang pernah disambangi, Marischka Prudence jatuh hati kepada tiga tempat berikut.

Ia kemudian menyarankan tiga tempat ini untuk Anda kunjungi. Untuk dalam negeri, Marischka menyarankan Anda pelesir ke Misool Raja Ampat bagian Selatan. “Ia memiliki spot yang jauh lebih spektakuler dari pulau-pulau Karang Wayag Raja Ampat,” kata dia.

Saat ke Misool, dengan perjalanan naik kapal satu jam lebih, Anda bisa melihat pulau-pulau dengan bentuk aneh-aneh. Ada pulau yang bentuknya seperti menhir, batu dipotong kotak-kotak, dan sebagainya. “Saya sampai berpikir, ini masterpiece-nya Tuhan. Ketika membuat Misool, Tuhan mungkin sedang dalam mood yang baiiiiiik bangeeeeet,” kata dia. 
Untuk luar negeri, pilihan Marischka Prudence jatuh kepada New Zealand alias Selandia Baru. Pergi ke sana serasa berada di alam The Lord of The Ring. “Tapi kalau bicara aspek sosial, Jepang pilihan terbaik.”

Marischka beralasan di negara yang yang mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris itu, keadaannya sangat aman. Penduduknya sangat mudah memberi bantuan. “ Yang bikin destinasi menjadi supermenarik bukan sekadar lanskap. Penduduknya memang sangat baik,” lanjutnya.

Menikmati Malam di Nagasaki, Ini Tempatnya...


NAGASAKI, KOMPAS.com - Jika Anda memiliki rencana untuk berlibur ke Jepang, tidak ada salahnya untuk mencoba mengunjungi  kawasan yang satu ini, Nagasaki.
Ya! Nama Nagasaki pasti tidak asing di telinga karena pernah porak poranda akibat hantaman bom atom pasukan Amerika pada tahun 1945 sehingga namanya diabadikan dalam catatan sejarah Perang Dunia II.
Nagasaki yang terletak di sebelah barat laut Pulau Kyushu menawarkan pesona tersendiri bagi wisatawan baik dari mancanegara maupun lokal.
Dengan jarak sekitar 1.225 kilometer dari kota Tokyo, Nagasaki bisa diakses melalui berbagai moda transportasi yaitu pesawat terbang dengan durasi perjalanan 2 jam, kereta cepat shinkansen dengan durasi perjalanan sekitar 8 jam atau kendaraan pribadi dengan durasi perjalanan sekitar 13,5 jam non-stop.
Moda transportasi kereta gantung (ropeway) di Nagasaki, Jepang. Lama perjalanan kereta gantung dari stasiun pemberangkatan hingga Stasiun Gunung Inasa adalah sekitar 10 menit. Dari gunung ini, wisatawan bisa menikmati keindahan malam kota Nagasaki dari ketinggian 333 meter di atas permukaan laut.(RATNA KURNIASARI)
Kota yang cenderung tenang dan tidak sibuk ini menyuguhkan berbagai obyek wisata untuk melepas kepenatan.
Salah satu aktivitas yang dapat anda lakukan adalah menikmati keindahan malam kota Nagasaki dari ketinggian 333 meter di atas permukaan laut tepatnya di sebuah gunung bernama Inasa yang berlokasi sangat dekat dari pusat kota.
Walaupun lokasi ini dapat diakses dengan menggunakan kendaraan pribadi, namun akan lebih menarik jika anda mencoba pengalaman yang berbeda dengan moda transportasi kereta gantung (ropeway).
Wisatawan dikenakan tarif sebesar 1.230 yen (dewasa), 920 yen (pelajar) dan 610 yen (anak-anak) untuk rute pulang-pergi.
Moda transportasi kereta gantung (ropeway) di Nagasaki, Jepang. Lama perjalanan kereta gantung dari stasiun pemberangkatan hingga Stasiun Gunung Inasa adalah sekitar 10 menit. Dari gunung ini, wisatawan bisa menikmati keindahan malam kota Nagasaki dari ketinggian 333 meter di atas permukaan laut.(RATNA KURNIASARI)
Durasi perjalanan kereta gantung dari stasiun pemberangkatan hingga Stasiun Gunung Inasa adalah sekitar 10 menit.
Sesampainya di atas Gunung Inasa, wisatawan dapat melihat pemandangan kota Nagasaki dari dek observasi.
Waktu yang paling disarankan untuk mengunjungi lokasi ini adalah menjelang matahari terbenam karena langit berwarna oranye kemerahan yang melatarbelakangi kota Nagasaki memberikan romansa keindahan tersendiri.
Selain itu, nikmatilah pemandangan spektakuler dikenal dengan pemandangan malam “sepuluh juta dolar” di malam hari dengan suguhan kelap-kelip lampu kota Nagasaki yang mulai menyala sejak pukul 6 sore.
Menikmati keindahan senja hari kota Nagasaki, Jepang, dari ketinggian 333 meter di atas permukaan laut. (RATNA KURNIASARI)
Hal yang merupakan satu-satunya kekurangan dari obyek wisata ini adalah ketergantungannya terhadap kondisi cuaca.
Jika cuaca hujan dan berkabut, tentunya wisatawan tidak dapat secara maksimal menikmati keindahan kota Nagasaki dari ketinggian.(RATNA KURNIASARI)

Ironi Bentang Alam Karst Indonesia Terluas di Asia Tenggara

Written By Unknown on Selasa, 04 April 2017 | April 04, 2017


kembali menyemen kaki di depan Istana Merdeka, sebagai bentuk protes pada aktivitas PT Semen Indonesia di tanah mereka,Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, Jawa Tengah.
Kawasan yang dikenal sebagai pegunungan kapur itu sudah hampir satu dekade ini menjadi lahan konflik. Antara perusahaan pelat merah yang berambisi memproduksi semen, dengan warga setempat, yang mayoritas petani, berjuang hidup dengan alam Kendeng yang ada. 
Pegunungan Kendeng Utara adalah salah satu bagian dari bentang alam karst di Indonesia.Kawasan karst menjadi penyumbang utama bahan baku pembuatan semen. Karenanya, industri semen selalu mengincar kawasan yang tampak gersang di permukaan tersebut.
Indonesia memiliki bentang alam karst terluas di Asia Tenggara, namun banyak konflik yang muncul karenanya. Menurut data Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), walaupun memiliki bentang karst terluas, namun karst lindung Indonesia ternyata paling sedikit dari pada negara lainnya di ASEAN. 
Sebenarnya, apa itu kawasan karst? Mengapa banyak pihak, tak hanya petani yang bersangkutan, tetapi juga para aktivis lingkungan, mempertahankan kawasan karst agar jauh dari tangan-tangan industri yang berencana mengeksploitasinya? 
Selangkapnya dalam Infografis di bawah ini: 

7 Tempat Liburan Paling Ngehits di Indonesia. Mana Favoritmu?


Ditambah lagi dengan mudahnya akses internet dan banyaknya media sosial belakangan ini, membuat potensi wisata yang dulu tak nampak, sekarang jadi ngehits di kalangan para wisatawan.
Jayapura, Jubi - Indonesia punya banyak sekali lokasi wisata yang cantik-cantik. Dari ujung Timur sampai ke Barat, Selatan ke Utara semua layak untuk dijelajahi. Ditambah lagi dengan mudahnya akses internet dan banyaknya media sosial belakangan ini, membuat potensi wisata yang dulu tak nampak, sekarang jadi ngehits di kalangan para wisatawan.
Pulau Komodo
Dulu nggak kebayang banget mau pergi ke Pulau Komodo. Tempatnya seperti apa pun nggak tahu karena akses yang terbatas dan tiket pesawat yang mahal. Sekarang sudah nggak lagi, karena sudah ada banyak penerbangan ke Nusa Tenggara Timur dan tiketnya pun bisa didapat dengan mudah di Traveloka.com tiket.
Nggak cuma bisa lihat Komodo dari dekat, kamu juga bisa menikmati indahnya pantai dan lautan di sekitar Pulau Komodo. Snorkeling atau diving, atau sekedar main pasir di Pantai Pink, semua bisa kamu dapat di sini.
Raja Ampat
Bernasib sama seperti Pulau Komodo, dulu juga nggak ada yang kebayang bakal main ke Raja Ampat, Papua. Harga tiket ke sana amatlah mahal dan jadwal penerbangannya pun tak setiap waktu ada.
Tapi sekarang sudah nggak lagi, ke Raja Ampat dan menjelajahi Papua nggak bikin tabunganmu habis. Dan yang jelas, keindahan alam di Raja Ampat sangat layak untuk dikunjungi dan dilestarikan.
Malang
Pergi ke satu kota dan dapat banyak pilihan tujuan wisata? Malang adalah jawabannya. Antara pilihan mau naik gunung Bromo dan Semeru, menikmati dinginnya Kota Batu atau main di pantai Selatan Kabupaten Malang. Semua bisa kamu dapatkan dengan sekali jalan ke Kota Malang. Jangan lupa, wisata kuliner di Malang juga layak buat diicip, semua enak!
Tiga Gili – Lombok
Gili Terawangan, Gili Meno dan Gili Air menjadi destinasi wisata kebanggaan Nusa Tenggara Barat. Bukan cuma karena tiga pulau ini amat indah, tapi kelestariannya juga masih terjaga sampai sekarang. Tentu kamu tahu, kalau di sana nggak ada kendaraan bermotor bukan? Jadi polusi di tiga gili ini amat minim sekali.
Tapi sebenarnya Lombok nggak cuma punya tiga gili ini saja, ada juga Pantai Senggigi, Pantai Kuta dan juga Gunung Rinjani yang sama tenarnya dengan tiga Gili. Main ke Lombok sekarang jadi seperti ke Bali, banyak pilihan dan kamu akan bingung mau ke mana dulu.
Bali
Nggak bisa nggak memasukkan Bali dalam daftar tempat wisata paling ngehits. Sampai saat ini, Bali masih jadi andalan wisata di Indonesia dan jadi tujuan yang paling banyak diincar wisatawan asing dan lokal.
Tak hanya mengandalkan Kuta dan Ubud, sekarang Bali punya banyak pantai lain dan lokasi lain yang nggak kalah keren. Sebut saja Pantai Pandawa atau kawasan Nusa Dua yang indah. Pasti bikin kamu kangen ke Bali lagi.
Pulau Belitung
Nggak bisa dipungkiri, Bangka Belitung mulai tenar setelah muncul di film LASKAR PELANGI yang diangkat dari buku karangan Andrea Hirata. Semua terpukau melihat indahnya pantai yang ada di Pulau Belitung, dan sekarang tempat ini jadi banyak dikunjungi wisatawan.
Pulau Derawan – Kalimantan
Buat kamu yang suka snorkeling atau diving, Pulau Derawan sudah pasti jadi tempat jujugan wisata. Pulau ini nggak cuma punya laut yang sangat indah, tapi pantai-pantainya juga nggak kalah menawan. Cocok buat kamu yang suka dengan keindahan pantai.
Dari tujuh tempat ini, mana yang paling kamu suka? (*)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Portal Berita Tolikara No. 1 Majalah Toli - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger